PUSTAKA IIMaN
When You Buy A Book You Don’t Just Buy Papers, You Buy A Value Of Life!

Resensi di Harian “Analisa”, 24 Agustus 2007

ahmadinejad_1-blog.jpg

“Musa” di Tengah Kepongahan “Fir’aun” Modern

Judul Buku : Ahmadinejad The Nuclear Savior of Tehran Sang Nuklir Membidas Hegemoni AS dan Zionis.

Penulis : Adel El-Gogary

Penerjemah: Tim Kuwais

Penerbit : Pustaka IIMaN, April 2007

Tebal Buku : 337 Halaman

 

Siapa sosok yang paling ditakuti Amerika Serikat dan Zionis Israel hari ini? Jelas, jawabannya adalah Mamoud Amadinejad, Presiden Republik Islam Iran. Dialah tokoh yang berani lantang melawan kesewenang-wenangan dan konspirasi AS-Israel beserta sekutu-sekutu mereka. Setelah berakhir Perang Dingin dan “meninggalnya” Negara Uni Sovyet- saingan terbesar AS saat itu- AS, Israel dan sekutu-sekutunya semakin meraja lela berbuat semau mereka. Afghanistan dilibas, Irak diobok-obok, Palestina dipermainkan. Hampir semua negara di dunia tidak berdaya dengan berbagai sepak terjang mereka. PBB sebagai lembaga perserikatan bangsa-bangsa, juga tidak berdaya melihat mereka, karena PBB sendiri sudah mereka beli dan harus tunduk pada kemauan mereka.

 

Di tengah-tengah ketidakberdayaan dunia internasional ini muncullah tokoh Mahmoud Ahmadinejad, seorang anak desa putra pandai besi yang hidup dalam kemiskinan, Ahmadinejad dengan lantang menggugat dominasi AS, Zionis dan sekutu-sekutunya serta ketidakadilan yang mereka ciptakan dalam dunia internasional dan mencitrakan secara negatif Ahmadinejad, pemimpin negara para mullah tersebut. Tokoh ini dituduh sebagai radikal, konservatif, pendukung terorisme dan berbagai citra negatif lainnya. Bahkan Ahmadinejad juga dituduh terlibat dalam kasus penyanderaan 52 orang Amerika Serikat pada awal Revolusi Islam Iran 1979 yang berlangsung selama 444 hari.

 

Amerika Serikat dan sekutunya juga semakin berang ketika tahu bahwa Iran memproduksi nuklirnya. Tentu saja ini menimbulkan ketakutan mereka, karena suatu saat nuklir ini akan membahayakan kelangsungan dominasi mereka dan – ini yang paling dikhawatirkan AS – mengganggu kepentingan “anak kesayangannya” di Timur Tengah, yaitu Israel. Padahal, nuklir yang diproduksi Iran adalah untuk perdamaian. Ahmadinejad sendiri menegaskan bahwa Iran tidak akan menghentikan nuklirnya dan tidak akan tunduk pada kemauan AS. Dengan tegas Ahmadinejad menyatakan bahwa kalau nuklir berbahaya, mengapa mereka memproduksi secara massif dan menggunakannya untuk membunuh manusia. Sebaliknya, kalau bermanfaat bagi kemanusiaan, mengapa hanya mereka yang berhak memproduksinya. Ini hanya akal-akalan AS dan sekutunya untuk mempertahankan hegemoni mereka. Akhirnya, meminjam tangan PBB, AS berjuang agar Iran diberi sanksi, dan berhasil. Skenario yang dilakukan AS ini mirip dengan yang digunakannya ketika memprorak-porandakan Irak.

 

Namun Iran adalah bangsa yang besar. Ahmadinejad tidak akan pernah mau tunduk kepada kekuatan-kekuatan asing yang mencoba mendikte Iran, apa pun risiko yang akan mereka hadapi. Dalam buku ini Anda diajak mengenal sosok Ahmadinejad lebih dekat. Diawali dengan pembahasan tentang sosok Ahmadinejad sebagai Presiden Iran; asal-usulnya, kemenangannya sebagai presiden keenam, janji-janji serta langkah-langkah konkretnya untuk melaksanakan janjinya, kajian buku ini difokuskan kepada pembicaraan tentang Ahmadinejad dan Iran dalam kancah negara-negara Teluk dan isu program nuklir Iran serta reaksi Amerika dan Israel. Lalu di bagian akhir buku ini Smith Al-Hadar dengan tajam mengkaji eskalasi nuklir Iran.

 

Melihat keberanian Iran ini tentu Amerika Serikat, Zionisme Israel dan sekutu-sekutu mereka harus berpikir panjang untuk menjadikan Iran sebagai Irak jilid II.

 

Melihat sepak terjang Ahmadinejad siapa pun akan berdecak kagum. Betapa ia berani mengatakan “tidak” pada Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, pada saat dunia internasional dipaksa untuk tunduk pada kemauan-kemauan mereka. Ahmadinejad tampil sebagai “Musa” yang mencoba melawan kesewenang-wenangan “Fir’aun abad ke-21” ini. Selayaknya kita belajar banyak pada Ahmadinejad untuk dapat menentukan masa depan sendiri, tanpa tunduk pada kehendak-kehendak asing.

 

Buku ini menarik sekali. Dengan bahasa yang ringan dan investigasi yang tajam, pengarang yang juga pemimpin redaksi koran al-Ghad al-‘Arabi , Mesir, berhasil memotret sosok Ahmadinejad yang berani dan teguh pada pendirian.

Muhammad Iqbal, Dosen IAIN Sumatera Utara

Belum Ada Tanggapan to “Resensi di Harian “Analisa”, 24 Agustus 2007”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: