PUSTAKA IIMaN
When You Buy A Book You Don’t Just Buy Papers, You Buy A Value Of Life!

Pelangi di Persia – Catatan Urang Awak tentang Iran

Resensi Buku


DINA Y. Sulaeman adalah asli urang awak yang berhasil membukukan catatannya selama hidup di perantauan. Dia tinggal di lran selama 8 tahun untuk menuntut ilmu di S2 Theologi Teheran Univesity dan akhirnya menjadi penyiar dan editor di Radio Indonesia IRIB (Islamic Repubic of Iran Broadcasting) Teheran.

Penguasaannya terhadap bahasa Persia yang baik, serta kemauannya bergaul dan berbaur dengan tetangga-tetangganya serta teman-temannya di Iran, membuat catatannya sangat komprehensif. Iran sering kita bicarakan, dengan prasangka dan stereotype yang entah datang dari mana. Belakangan, tentu saja, prasangka yang diembus-embuskan media Barat.

Melalui buku ini kita menjadi tahu bagaimana fakta sesungguhnya di dalam negeri. Misalnya, bagaimana kehidupan antarmazhab dan antaragama, bagaimana program nuklir Iran di mata rakyat Iran sendiri, termasuk kalangan oposisi, bagaimana posisi perempuan Iran, atau bagaimana sesungguhnya atraksi politik Ahmadinejad di dalam negeri.

Uniknya, semua catatan Dina tentang seluk-beluk kehidupan dan situasi di Iran itu dirangkai dalam sebuah catatan perjalanan (travelogue) keliling Iran yang dilakukannya selama 2 bulan menjelang kepulangannya ke Indonesia. Hasilnya, kita akan mendapati sebuah catatan yang mengasyikkan untuk dibaca.

Seperti ditulis Sirikit Syah, pengamat media dan pendiri Media Watch yang memberikan endorsment-nya di buku ini, “Perjalanan Dina ke berbagai wilayah Iran yang sangat beragam itu membuka mata kita tentang latar belakang kultur/budaya yang sangat beragam di Iran, kesukuan/etnisitas, agama, sejarah, bahkan modernitas dan gaya hidup orang-orangnya, di kota maupun di desa-desa di pegunungan. Keindahan negara Iran juga digambarkan dengan saksama, menggoda kita untuk berangan-angan pergi ke sana pada suatu ketika.

Di antara fakta menarik yang dicatat Dina dalam bukunya adalah betapa perempuan

di Iran sudah terjamin hidupnya begitu mereka menikah, karena mahar yang mahal sekali. Mahar bagi mempelai perempuan ini membuat laki-laki Iran keder untuk melangkah ke pelaminan.

Namun, atas nama cinta, mahar bisa saja ditunda pembayarannya, atau diangsur seumur hidup sang suami, atau bahkan dibebaskan. Persoalan bagi laki-laki adalah bila dia hendak menceraikan istrinya. Sebelum bercerai, mahar harus lunas, atau dia masuk penjara.

Oleh sebab itu, laki-laki Iran jarang menceraikan istrinya, dan para istri Iran terjamin hidupnya. Dia bersuami kan lelaki setia; atau bila bercerai, mendapatkan “pesangon” dari mahar yang dibayarkan. Tapi sebaliknya si isteri dalam hati amat ketakutan kalau betul-betul terjadi perceraian, karena setiap ada perceraian, tidak di timbang siapa yang salah, anak-anak akan jatuh pada suami hak pengasuhannya. Inilah hukum perkawinan yang diberlakukan di negara Islam itu.

Sebuah cuplikan tentang iklan-iklan di televisi Iran juga memberi gambaran menarik. Tentang seorang istri ang melayani ibu mertua, namun ketika ibu mertua tanya ini itu, sang menantu tak bisa menjawab. Dia selalu berteriak “Hamiiid!” memanggil suaminya.

Ini mengambarkan bahwa di rumah tangga mereka, Hamidlah (sang suami) yang mengurus segala urusan termasuk soal dapur. Menurut pengamatan Dina, laki-laki Iran memang suka membantu istrinya mengurus rumah tangga.

Yang menarik juga penggambaran Dina tentang budaya “eling” di rumah-rumah Iran. Standar kebersihannya sampai mencapai taraf “paranoid” (berlebihan). Satu titik noda pun akan mengganggu sang nyonya rumah.

Rumah kecil di desa pegunungan pun steril dari kotoran. Di dapur pun digelar permadani Persia yang indah. Nyonya rumah gemar bekerja keras dari subuh sampai malam demi menjaga kebersihan rumahnya. Toh, perempuan-perempuan Iran itu masih sempat berdandan/ bersolek mempercantik diri, untuk konsumsi domestik (suami dan kerabat sendiri).

Kisah Dina tentang ‘alis perempuan Iran‘ cukup menggelikan. Setelah membaca beberapa karya Marjane Satrapi (perempuan pengarang Iran yang kini mukim di Prancis), yang karya-karyanya memandang negaranya dengan kritis dan sinis berlebihan (Embroideries, Persepolis; The Story of Childhood), membaca buku Dina memberi nuansa yang berbeda. Terkesan lebih jujur, lebih faktual, tanpa ada agenda setting atau framing tertentu.

Dina menulis apa yang dilihat dan didengarnya secara objektif. Kisahnya tentang para sopir taksi yang menjengkelkan, para ibu-ibu pengajian yang suka mendebat ustad, penerapan hukum-hukum Islam yang dirasa terlalu ketat oleh generasi muda; catatan-catatan positif-negatif itu, membuktikan bahwa Dina tidak membawa agenda setting apa pun. Toh, pembaca akan merasakan bahwa Dina mencintai Iran, dengan kelebihan dan kekurangannya.

Ini sebuah buku yang patut dan enak dibaca, bila kita ingin mengenal iebih dekat negara yang oleh media Barat selalu diberi label sebagai negara fanatik, fundamentalis, radikal, dan seabreg julukan “mengerikan” lainnya. Buku ini telah beredar di toko-toko buku.

_________________________________________

Resensi Buku di : Harian Singgalang, 3 Februari 2008

Penulis Resensi : Rifki Ferdiansyah, Dosen Bhs Inggeris, LP3I Bussiness College Cabang Padang,

Mantan Waratawan Mingguan SERAMBI MINANG.

Belum Ada Tanggapan to “Pelangi di Persia – Catatan Urang Awak tentang Iran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: